PEKANBARU, LAKSAMANANEWS.COM || Suasana siang yang seharusnya dipenuhi aktivitas belajar mengajar mendadak berubah menjadi sorotan publik setelah sebuah tempat PlayStation (PS) diduga dijadikan lokasi mesum oleh oknum anak sekolah. Fakta demi fakta yang terungkap membuat masyarakat tercengang dan geram.
Kasus ini mulai mencuat setelah aktivis perempuan dan anak Rika Parlina S.H menerima laporan dari warga yang curiga terhadap aktivitas mencurigakan di sebuah tempat PS yang sering dipadati pelajar pada jam sekolah. Tidak sedikit warga mengaku resah karena tempat tersebut diduga kerap dijadikan lokasi berkumpul bebas tanpa pengawasan.
Saat dilakukan penelusuran langsung ke lokasi, suasana mendadak tegang. Aktivis Perempuan dan anak menemukan dugaan tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh oknum pelajar di dalam ruangan tempat PS tersebut.
Yang lebih mengejutkan, saat dikonfirmasi, owner tempat PS justru mengakui bahwa kejadian serupa ternyata sudah pernah terjadi sebelumnya.
“Sudah tiga kali kejadian seperti ini, dan hanya dilakukan pemanggilan orang tua masing-masing pelajar” ungkap owner di hadapan Aktivis Perempuan dan anak.
Pengakuan itu sontak membuat suasana semakin panas. Rika menilai pemilik usaha diduga lalai karena tetap membiarkan tempat tersebut beroperasi tanpa pengawasan ketat meski mengetahui adanya perilaku menyimpang di lokasi usahanya.
Namun fakta yang paling membuat Rika geram muncul setelah owner juga mengakui bahwa usaha PS tersebut ternyata belum memiliki izin usaha resmi.
Artinya, tempat yang diduga menjadi lokasi rusaknya moral pelajar itu beroperasi tanpa legalitas yang jelas.
Aktivis perempuan dan anak pun mengecam keras kondisi tersebut. Mereka menilai ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan kondisi darurat sosial yang harus segera ditindak.
“Ini sangat memprihatinkan. Anak sekolah bolos saat jam pelajaran, lalu diduga melakukan tindakan mesum di tempat usaha yang bahkan tidak memiliki izin. Ini tidak boleh dianggap sepele,” tegas salah satu aktivis.
Aktivis juga mendesak dinas terkait, aparat penegak hukum, serta pemerintah daerah untuk segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan tindakan tegas terhadap tempat usaha tersebut.
Rika kini mempertanyakan, bagaimana tempat tanpa izin bisa bebas beroperasi dan menjadi tempat berkumpulnya pelajar tanpa pengawasan?
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Jika tidak segera ditindak, warga khawatir tempat-tempat serupa akan terus menjadi ruang bebas yang merusak masa depan generasi muda.
Kini rika menunggu…
Akankah tempat PS tersebut ditutup?
Atau justru kembali beroperasi seolah tak pernah terjadi apa-apa?











